JAKARTA, Jejak News — Belantika musik Indonesia hari ini berselimut duka sedalam samudera. Penyanyi bertalenta, Oxavia Aldiano atau yang lebih dikenal sebagai Vidi Aldiano, menghembuskan napas terakhirnya pada Sabtu, 7 Maret 2026, pukul 16.33 WIB. Kepergian sosok yang dikenal sebagai “Duta Persahabatan” ini dikonfirmasi langsung oleh pihak keluarga dan kolega terdekat, menandai berakhirnya sebuah perjalanan panjang penuh ketabahan menghadapi ujian kesehatan yang berat.
Vidi wafat dalam dekapan hangat keluarga besar setelah enam tahun lamanya berjibaku melawan penyakit kanker ginjal. Sebuah perjuangan yang tidak hanya menguras fisik, namun juga menjadi simbol optimisme bagi jutaan penggemarnya di seluruh tanah air.
Langkah terjal Vidi dimulai pada Desember 2019, saat ia pertama kali didiagnosis mengidap kanker ginjal. Operasi besar di Singapura sempat membawa secercah harapan dengan status “sehat” pada tahun 2020. Namun, sel kanker yang agresif kembali ditemukan pada pemeriksaan rutin tahun 2021.
Keteguhan hati suami Sheila Dara ini diuji kembali pada tahun 2023, ketika ia secara terbuka membagikan kabar bahwa kankernya telah mengalami metastasis atau penyebaranke berbagai titik organ tubuh lainnya. Alih-alih menyerah, Vidi memilih untuk berdamai dengan kondisinya, menjalaninya dengan sebutan “spa day” untuk setiap sesi perawatan medis intensif setiap tiga minggu sekali.
Memasuki pertengahan 2025 hingga awal 2026, kondisi kesehatan Vidi menunjukkan penurunan yang signifikan. Penurunan berat badan hingga 10 kilogram menjadi bukti nyata betapa beratnya rangkaian pengobatan yang dijalani. Efek sistemik dari kemoterapi generasi terbaru pun mulai mengubah fisiologi tubuhnya.
Salah satu tanda klinis yang mencuri perhatian publik adalah perubahan drastis warna kulit Vidi yang menjadi jauh lebih pucat. Dengan gaya bahasa yang tetap humoris meski di tengah rasa sakit, Vidi sempat menyamakan dirinya dengan karakter fiksi Edward Cullen. Namun, di balik gurauan tersebut, perubahan skin tone itu merupakan indikasi medis dari reaksi obat kemoterapi yang sangat kuat, sekaligus penanda bahwa tubuhnya tengah bekerja melampaui batas dalam melawan keganasan sel kanker.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan Dewan Kesenian Nasional turut berbela sungkawa atas berpulangnya musisi yang gigih mengampanyekan pentingnya deteksi dini kesehatan ini. Vidi Aldiano bukan sekadar penyanyi; ia adalah manifestasi dari keberanian seorang pejuang yang tetap membagikan cahaya bagi orang lain, bahkan di saat cahayanya sendiri perlahan meredup.
Dunia seni Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya, namun semangat resiliensi dan kedamaian hati yang diajarkan Vidi Aldiano akan tetap abadi sebagai warisan bagi bangsa.(Rangkuti/ARM)







