PUPR Kota Tangerang

Pesan Keras Prabowo di Hambalang: Bekerja untuk Rakyat atau Silakan Mundur!

Retret II
Presiden Prabowo dan Wapres Gibran dalam gelaran retret di Hambalang, Jawa Barat. (dok. Setpres)
HAMBALANG. Jejak News – Mengawali kalender pemerintahan di tahun 2026, Presiden Prabowo Subianto kembali menunjukkan kepemimpinan yang solid dan terukur melalui Retret Kabinet Merah Putih Jilid II. Bertempat di atmosfer sejuk Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, agenda yang berlangsung sejak Selasa, 6 Januari 2026 ini bukan sekadar pertemuan formal, melainkan sebuah simfoni persatuan menuju Indonesia Emas.
Pemandangan unik terlihat saat seluruh menteri, wakil menteri, hingga kepala lembaga negara tampil kompak mengenakan seragam safari berwarna cokelat (khaki). Pilihan busana ini mencerminkan semangat kesahajaan namun penuh ketegasan. Presiden Prabowo dan Wapres Gibran Rakabuming Raka yang turut mengenakan pakaian senada mengirimkan pesan visual yang kuat kepada publik: bahwa Kabinet Merah Putih berdiri dalam satu barisan yang harmonis dan siap bekerja tanpa sekat ego sektoral.
Memasuki tahun kedua kepemimpinan Prabowo-Gibran, retret ini difokuskan pada evaluasi menyeluruh kinerja 2025. Presiden menekankan pentingnya profesionalisme komunikasi publik agar setiap kebijakan pemerintah sampai ke telinga rakyat dengan jernih. Beberapa agenda krusial yang dibahas meliputi:
  • Akselerasi Makan Bergizi Gratis: Target ambisius 89 juta penerima manfaat menjadi prioritas utama untuk memperkuat fondasi SDM bangsa.
  • Satgas Rehabilitasi Pascabencana: Presiden mengumumkan pembentukan satuan tugas khusus yang dipimpin oleh Mendagri Tito Karnavian untuk mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana, khususnya di Sumatra.
  • Kedaulatan Pangan: Di tengah tensi global, Presiden menegaskan bahwa ketergantungan impor pangan harus segera diakhiri melalui penguatan sektor pertanian domestik.
Memasuki hari kedua, Rabu (7/1), retret berakhir dengan gelombang optimisme tinggi. Para menteri melaporkan kesiapan kementeriannya untuk mengeksekusi program unggulan dengan manajemen yang lebih ramping dan efisien. Terkini, Presiden dijadwalkan langsung bertolak untuk menghadiri panen raya, sebuah tindakan simbolis yang menunjukkan bahwa setelah strategi disusun di Hambalang, aksi nyata segera dilakukan di lapangan.
Di mata pengamat politik dan masyarakat luas, Retret Hambalang memperkuat citra Presiden Prabowo sebagai sosok negarawan yang disiplin namun humanis. Pendekatan mengumpulkan kabinet di kediaman pribadi membangun kedekatan emosional ( esprit de corps) yang jarang ditemukan dalam dinamika perpolitikan konvensional.
Di kancah internasional, kekompakan ini melambungkan nama Indonesia sebagai negara dengan stabilitas politik yang sangat matang, memberikan sinyal positif bagi para investor global bahwa Indonesia adalah kapal yang dipimpin oleh nakhoda yang tangguh dan kru yang solid.
Retret Jilid II ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah janji bakti. Di bawah langit Hambalang, Kabinet Merah Putih telah memperbarui sumpah pengabdian mereka: untuk Indonesia yang lebih mandiri, sejahtera, dan bermartabat di mata dunia.
Dalam penutupan Retret Kabinet Merah Putih Jilid II di Hambalang yang berakhir hari ini, Rabu, 7 Januari 2026, Presiden Prabowo Subianto memberikan pesan penutup yang sangat emosional sekaligus tegas. Kalimat-kalimat beliau mencerminkan sisi humanis seorang pemimpin yang sangat mencintai rakyatnya, namun tetap memegang teguh disiplin prajurit.
Berikut adalah sisipan komentar terkini Presiden Prabowo dalam kegiatan tersebut:
Pesan Pamungkas Presiden Prabowo: “Rakyat Tidak Butuh Retorika, Rakyat Butuh Hasil”
Sambil menatap tajam seluruh jajaran menterinya yang masih mengenakan seragam safari cokelat, Presiden Prabowo menegaskan bahwa tahun 2026 harus menjadi tahun pembuktian.
“Saudara-saudara sekalian, kita berkumpul di sini bukan untuk sekadar berseragam sama atau bernostalgia. Seragam cokelat ini adalah simbol bahwa kita adalah pelayan rakyat, bukan penguasa rakyat. Saya ingin setelah dari Hambalang ini, tidak ada lagi menteri yang bekerja sendiri-sendiri. Rakyat di pelosok tidak butuh retorika yang indah di televisi, mereka butuh makan yang cukup, pendidikan yang layak, dan perlindungan saat bencana melanda.”
Presiden juga menambahkanpernyataannya yang menyentuh sisi integritas dan pengabdian
“Masa depan Indonesia Emas bukan hadiah dari langit, tapi hasil dari keringat kita di ruangan ini. Jika ada di antara saudara yang merasa tidak sanggup menjaga integritas atau merasa kepentingan pribadinya lebih besar dari urusan rakyat, silakan bicara sekarang. Karena kereta pembangunan ini akan melaju sangat cepat di tahun 2026, dan saya tidak akan membiarkan ada satu pun penumpang yang menghambat kemajuan bangsa.” pungkasnya.( Yusrizal)

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu