KOTA TANGERANG, Jejak News – Belum genap lima puluh hari berselang sejak banjir besar 23 Januari lalu menyisakan trauma, warga Perumahan Periuk Damai kini harus kembali berhadapan dengan kenyataan pahit. Siklus delapan hari perjuangan membersihkan lumpur dan memperbaiki hunian yang luluh lantah kala itu, seolah menguap sia-sia saat air setinggi 5 meter kembali mengepung pemukiman mereka sejak Sabtu malam (7/3/2026).
Banjir kali ini bukan sekadar fenomena alam tahunan, melainkan sebuah ujian kemanusiaan yang mendalam. Di tengah upaya warga yang sedang “tertatih-tatih” membangun kembali pondasi ekonomi dan fisik rumah mereka, hantaman air yang mencapai atap rumah memaksa segala bentuk pemulihan terhenti total.
Bagi masyarakat Periuk Damai, kehilangan bukan lagi sekadar angka statistik. Kerusakan struktur bangunan—mulai dari atap yang jebol hingga pondasi yang bergeser—menunjukkan bahwa daya tahan hunian warga telah mencapai titik jenuh. Ketidaksediaan fasilitas penampungan logistik untuk aset berharga seperti furnitur dan elektronik membuat warga hanya bisa pasrah melihat investasi seumur hidup mereka tenggelam dalam pekatnya air.
Lebih dari itu, banjir ini menghentikan sirkulasi ekonomi lokal dan membawa ancaman kesehatan yang nyata. Kondisi ini memicu diskursus publik mengenai efektivitas alokasi anggaran pembangunan.
Masyarakat kini mulai mempertanyakan arah kebijakan penanggulangan banjir. Di tengah anggaran miliaran rupiah yang dialokasikan untuk proyek tanggul, pompanisasi, hingga operasional solar, frekuensi banjir yang tidak berkurang memunculkan aspirasi kritis: apakah sudah saatnya pemerintah mempertimbangkan strategi managed retreat atau relokasi?
Uang rakyat yang selama ini dikonversi menjadi proyek fisik “statis” dinilai perlu dikaji ulang pemanfaatannya. Transformasi pengalokasian anggaran menuju solusi permanen yang lebih humanis—seperti pemindahan lokasi pemukiman—dianggap jauh lebih maslahat dibandingkan membiarkan warga terjebak dalam lingkaran penderitaan yang tak berujung.
Pemerintah melalui kementerian terkait terus memantau situasi dan melakukan upaya evakuasi maksimal. Namun, di balik setiap pompa yang menderu, terdapat ratusan jiwa yang berharap bahwa kebijakan ke depan tidak lagi sekadar menahan air, melainkan memuliakan kehidupan mereka kembali.(Fathur Ananta/Armand)







