PUPR Kota Tangerang

Kendalikan Banjir Bandang di Tapanuli Tengah, Kementerian PU Percepat Pembangunan Sabo Dam, Target Sinergi Pusat-Daerah Perkuat Mitigasi

JN-Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengambil langkah strategis dan cepat dalam menangani ancaman banjir bandang yang kerap menghantui warga Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Melalui pembangunan struktur sabo dam di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Tukka, pemerintah berkomitmen menciptakan sistem pengendalian banjir yang lebih permanen dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Proyek monumental ini ditargetkan rampung sepenuhnya pada Mei 2026. Guna mengejar target tersebut, Kementerian PU menerapkan skema design and build (rancang dan bangun), sebuah metode yang memungkinkan proses perencanaan dan konstruksi berjalan secara paralel sehingga jauh lebih efisien dibandingkan prosedur konvensional.

Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, saat meninjau langsung titik-titik terdampak banjir di Kabupaten Tukka pada Senin (16/2/2026), menegaskan bahwa pembangunan sabo dam bukan lagi sekadar pilihan, melainkan prioritas utama. Menurutnya, karakteristik banjir di wilayah ini sangat berbahaya karena membawa material padat dari pegunungan.

Baca juga: Perkembangan Percepatan Penanganan Darurat dan Pemulihan Bencana Hidrometeorologi di Sumatra pada 21 Januari 2026

“Kita akan percepat pembangunan sabo dam dari titik hulu. Fungsi utama struktur ini adalah menahan tekanan puing kayu, batu besar, dan material pasir yang terbawa arus deras. Saya minta seluruh tim bekerja ekstra cepat. Kita berpacu dengan waktu karena kondisi cuaca ekstrem bisa memicu bencana serupa hanya dalam waktu dua jam hujan lebat,” tegas Menteri Dody di hadapan jajaran BBWS Sumatera II.

Bencana banjir yang terjadi sebelumnya diketahui dipicu oleh luapan sungai Aek Tukka dan Aek Sigala. Elevasi hulu yang curam menyebabkan air hujan tidak hanya mengalirkan air, tetapi juga menggerus material alam dalam jumlah masif yang kemudian menyumbat aliran di hilir dan merendam permukiman warga serta memutus akses ekonomi.

Menteri Dody mengakui bahwa lokasi pembangunan di area hulu memiliki tantangan geografis yang berat dengan akses jalan yang terbatas. Namun, hal tersebut tidak menjadi alasan untuk menunda pengerjaan.

Baca juga: Bupati Maesyal Rasyid Masak Bareng Warga Korban Banjir Jayanti

“Target bulan Mei 2026 harus sudah clear. Hari ini proses design and build resmi dimulai. Meskipun akses di hulu lebih menantang dan berat, ini adalah tanggung jawab negara untuk memastikan masyarakat Tapanuli Tengah tidak lagi dihantui rasa was-was setiap kali hujan turun,” imbuhnya dengan nada optimis.

Sambil menunggu konstruksi sabo dam berjalan, Kementerian PU melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera II juga terus melakukan langkah tanggap darurat di area terdampak. Fokus utama saat ini adalah:

  • Normalisasi Alur Sungai: Mengembalikan kapasitas tampung sungai yang menyempit akibat sedimen.

  • Perkuatan Tanggul: Memperbaiki titik-titik tanggul yang jebol akibat hantaman arus.

  • Pembersihan Material: Evakuasi kayu-kayu besar dan batu yang menumpuk di area fasilitas publik.

Untuk mendukung mobilitas pengerjaan, berbagai alat berat telah disiagakan dan dioperasikan secara masif di lapangan, mulai dari backhoe loader, dozer, dump truck, hingga berbagai jenis excavator (grappler, long arm, dan mini) untuk menjangkau area-area sempit di pemukiman.

Langkah cepat ini merupakan bagian dari visi besar Kementerian PU dalam memitigasi risiko bencana di seluruh pelosok Indonesia. Dengan terbangunnya sabo dam yang kokoh, diharapkan risiko kerusakan infrastruktur dapat ditekan seminimal mungkin, sehingga aktivitas sosial dan roda perekonomian masyarakat di Sumatera Utara tetap berjalan stabil tanpa gangguan bencana tahunan.

Kementerian PU akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait guna memastikan integrasi pembangunan infrastruktur ini berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan di kawasan DAS Tukka.(IMH)

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu