JN-Hari ini Rabu,12 November 2025, delapan anggota peserta Indonesian Interfaith Scholarship (IIS) dari Austria mendarat di Indonesia. Ada dua peserta lain yang mendarat lebih awal untuk kepentingan lain. Mereka adalah Minister Plenipotentiary Alexander Rieger-Head of the Task Force Dialogue of Cultures and Religions, Austrian Federal Ministry for European and International Affairs, Mr. Ghobat Shukoor-Federal Chancellery, Office of Religious Affairs, Mr. Ümit Vural-President, Islamic Religious Society in Austria (IGGÖ), Mr. Gerhard Weissgrab-President, Austrian Buddhist Society, Prof. Markus Ladstätter-Secretary-General, Commission for World Religions of the Austrian Bishops’ Conference, Dr. Beate Winkler-Former Director, European Union Agency for Fundamental Rights; Artist, Prof. Elif Medeni-Former Director, Islamic Institute, Professor, University College of Teacher Education of Christian Churches in Austria, Ms. Larissa Eckhardt-Representative, Austrian NGO Christians in Need, Mr. Till Schönwälder-Journalist, Die Furche, dan Mrs. Hermine Schreiberhuber-Journalist, APA-Austrian Press Agency.
Ke-10 peserta IIS akan mengikuti jadwal kegiatan yang telah disusun dan disiapkan oleh Pusat Kerukunan Umat Beragama selama sembilan hari, 12 – 20 November 2025 dengan mengambil locus Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, dan Bali. Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama, Adib Abdushomad, menginformasikan bahwa program IIS 2025 tidak lain adalah upaya mewujudnyatakan Asta Protas Menteri Agama Nasaruddin Umar tentang Kerukunan c.q. internasionalisasi kerukunan dan toleransi di Indonesia dengan mengambil tema “Harmonizing Culture and Religion in Indonesia”. Para peserta akan didekatkan dengan kehidupan beragama yang riil dengan melihat, mendengar, dan mengalami langsung lewat perjumpaan dan dialog dengan sejumlah sumber informasi baik dari pihak pemerintah, tokoh agama, akademisi, maupun umat/jemaat dan kunjungan serta dialog di rumah-rumah ibadat. Dari perjumpaan tersebut diharapkan bahwa para peserta dapat dan mampu mengalami kehidupan beragama di Indonesia dari kenyataan kehidupannya.
Kilas Balik Program IIS Kementerian Agama
Program IIS di Kementerian Agama sudah 5 kali dilaksanakan sejak tahun 2012. Sudah ada 71 peserta yang menjadi alumni dari program ini dan mereka menjadi “duta-duta” Indonesia di berbagai negara di Eropa. Kementerian Agama memberikan “beasiswa” singkat berupa perjalanan dalam negeri kepada para peserta untuk berjumpa dengan kehidupan keberagamaan Indonesia. Program IIS tidak bisa dipisahkan dari program Interfaith dan Intercultural Dialogue (Bilateral, Regional, dan Multilateral) yang intensif dilaksanakan Kementerian Agama c.q. Pusat Kerukunan Umat Beragama dengan Kementerian Luar Negeri c.q. Direktorat Diplomasi Puplik sejak tahun 2006. Program IIS sebelumnya dikerjasamakan langsung antara Pusat Kerukunan Umat Beragama dengan KBRI Brussel, Belgia. Peserta program IIS dalam 5 kali terakhir adalah mereka yang selama ini bekerja di kantor Parlemen Eropa sebagai thinker, media, LSM, konsultan anggota Parlemen Eropa. Dengan jadwal dan agenda yang sudah disiapkan dengan baik dan rapi, para peserta IIS mendapatkan kesempatan untuk bisa bertemu, berjumpa, berdialog dengan pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, LSM dan ormas keagamaan dan mereka mengunjungi rumah-rumah ibadat, perguruan tinggi, dan bahkan mereka menginap di Pesantren dan Seminari untuk satu dua malam.
Di Jakarta, mereka mendapatkan informasi awal lewat acara “courtesy call” dengan Kementerian Agama tentang bagaimana pelayanan agama diberikan oleh Negara kepada seluruh masyarakat Indonesia. Ada yang membayangkan sebelumnya bahwa Kementerian Agama adalah Kementerian yang hanya mengurus umat Islam padahal pelayanan dalam semangat kesetaraan dan hak konstitusional umat beragama, semua umat beragama mendapatkan pelayanan yang sama dengan hadirnya Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Pusat Bimbingan dan Pendidikan (Pusbimdik) Khonghucu. Semua umat beragama diberikan pelayanan yang sama oleh Negara, tentu ragam dan luasnya bentuk pelayanan ikut ditentukan oleh besar dan banyaknya pemeluk masing-masing agama.
Kunjungan dan dialog di Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang berdiri bersebelahan di tengah ibu kota negara memunculkan kekaguman tentang Indonesia bagi peserta IIS. Cerita tentang arsitek Masjid Istiqlal yang adalah seorang yang beragama Kristen, Friedrich Silaban, mengirim pesan yang penuh arti terhadap peserta IIS, Masjid Istiqlal adalah salah satu Masjid terbesar di Asia Tenggara dengan bangunan yang kokoh dan megah. Kehadiran Terowongan Silaturahim saat ini yang menghubungkan pelataran Masjid Istiqlal dengan pelataran Gereja Katedral semakin menegaskan tentang hidup rukun antar sesama umat beragama. Di Gereja Katedral mereka mendengarkan tentang banyak hal diantaranya bahwa setiap perayaan besar keagamaan seperti Natal dan Paskah, umat Katolik yang datang beribadah dapat memarkirkan kendaraan mereka di parkiran Masjid Istiqlal, bahkan pernah terjadi persis bertepatan Hari Minggu juga akan dilaksanakan Sholat Id di Masjid Istiqlal; Romo Paroki dan umat Katolik mengambil kebijakan untuk memindahkan waktu Misa (Ibadah) Hari Minggu yang biasanya dilaksanakan pada pagi hari ke sore hari agar pelataran Gereja Katedral dapat dipakai dan lebih luas bagi umat Islam yang datang melaksanakan Sholat Id di Masjid Istiqlal.
Baca juga: Pemerintah Resmikan Pelabuhan Penyeberangan Letung dan Pelabuhan Penyeberangan Sedanau
Di sekitar wilayah Jabodetabek ada sejumlah tempat di mana juga ada beberapa rumah ibadat berdiri berdampingan diantarannya di Kampung Sawah, Kecamatan Pondok Melati, Bekasi yang dikenal sebagai “Segitiga Emas” di mana Masjid Agung Al-Jauhar Yasfi, Gereja Katolik Santo Servatius, dan Gereja Kristen Pasundan (GKP) yang memiliki sejarah unik sebagai komunitas Betawi yang memeluk agama Kristen. Pusat Kerukunan Umat Beragama pernah ikut memperkuat dan mengembangkan kawasan kerukunan umat beragama di “Kampung Sawah”. Dalam pelaksanaan program IIS tahun 2025, peserta dijadwalkan akan mengunjungi Desa Sadar Kerukunan (DSK) yang ikut dikembangkan oleh Pusat Kerukunan Umat Beragama di Desa Pabuaran, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Sebuah Desa di mana telah tumbuh sejak awal kehidupan harmonis, rukun, dan damai antar umat beragama dari beberapa agama yang hidup dalam sebuah desa dan terus dirawat sampai saat ini. Pengalaman melihat dan mengalami langsung lewat dialog dengan umat/jemaat memberikan banyak informasi tentang kehidupan keberagamaan nyata di Indonesia kepada para peserta IIS. Sejumlah informasi lainnya diterima dari kunjungan dan dialog di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, kantor Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), kantor PBNU, kantor PP Muhammadiyah. Semuanya memberikan banyak kekayaan pengalaman serta kesaksian tentang hubungan antar umat beragama.
Di Jawa Tengah, peserta IIS mengunjungi Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Masjid yang diarsitek dengan menggabungkan unsur utama: Islam, Budaya Jawa, dan gaya arsitektur Romawi. Para peserta juga diajak melihat Klenteng Sam Poo Kong, tempat ibadah umat Konghucu tetapi juga terbuka bagi pemeluk agama yang lain seperti Buddha dan Taoisme. Sebuah kompleks yang memiliki sejarah unik karena didirikan untuk mengenang Laksamana Cheng Ho yang beragama Islam. Klenteng ini dibangun dengan unsur budaya Tiongkok dan unsur budaya lokal Jawa serta jejak keislaman dari Cheng Ho dan awak kapalnya. Ada pertemuan dan kunjungan serta dialog di Gereja Katedral Semarang dan Gereja Blenduk (Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat Immanuel) yang didirikan pada tahun 1753. Candi Borobudur adalah salah satu destinasi yang “wajib” dikunjungi oleh para peserta IIS. Di candi Borobudur para peserta IIS menemukan kekaguman dengan para “guide” candi Borobudur yang bisa bercerita lancar dan sangat informatif tentang candi Borobudur sebagai candi Buddha yang dibangun oleh dinasti Syailendra pada abad ke-8 Masehi, tetapi mereka sendiri para “guide” sebagian besar beragama Islam, tetapi menguasai sejarah tetang Buddha. Mereka tinggal di sekitar candi Borobudur dan ikut merawat dan melindungi candi Borobudur turun temurun. Setelah berkunjung ke candi Borobudur, peserta IIS mampir di Vihara Mendut dan berdialog dengan Banthe yang tinggal di Biara. Kunjungan dan dialog yang menyempurnakan informasi tentang agama Buddha (Mahayana) di Indonesia.
Di D.I. Yogyakarta ada sejumlah agenda yang disodorkan kepada para peserta IIS diantaranya mengunjungi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, berkunjung dan berdialog di Masjid Gedhe Kauman yang memiliki keunikan yang arsitekturnya khas Jawa, atapnya bertingkat tiga yang memiliki filosofi tiga tahapan hidup manusia: Syariat, Makrifat, dan Hakekat. Selain itu, Masjid ini dibangun dengan menggunakan kayu jati yang sudah berusia ratusan tahun sebagai penopang utamanya, Masjid yang menyimbolkan Kerajaan Islam Nusantara dan tempat bersejarah bagi Keraton Yogyakarta. Destinasi lain yang ditunjukkan kepada peserta IIS adalah Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran, Bantul. Gaya bangunan gereja ini adalah hasil akulturasi budaya Jawa, Hindu, dan Eropa. Di Gereja ini ada patung Yesus, Bunda Maria, dan Malaikat yang mengenakan baju adat kebesaran Jawa. Kunjungan ke Candi Prambanan, berkunjung dan berdialog di UIN Sunan Kalijaga, di Universitas Kristen Duta Wacana, di Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) UGM, berkunjung ke Seminari Tinggi St. Paulus, dan tentu menyelusuri Jl. Malioboro dengan mampir di Toko Batik memberikan banyak kekayaan informasi kepada para peserta IIS.
Di Bali, peserta IIS berkunjung ke Pura terbesar yakni Pura Agung Besakih dan melihat dari dekat kehidupan beragama umat Hindu sekaligus menikmati indahnya panorama sekeliling yang dapat dilihat dari Pura Agung Besakih. Kunjungan dan dialog di Universitas Hindu Negeri (UHN) untuk mendapatkan informasi lebih jauh tentang agama Hindu, dan berkunjung ke kompleks Puja Mandala, kompleks tempat berdirinya 5 rumah ibadat berdampingan satu dengan yang lain. Di kompleks ini, peserta mendapatkan informasi bagaimana umat Islam, Kristen, Katolik, Buddha, dan Khonghucu hidup di Bali yang penduduknya mayoritas beragama Hindu. Pada hari terakhir setiap program, para peserta diberikan waktu menuliskan apa yang mereka rekam dan alami selama mengikuti program. Dari keseluruhan alumni semua menjadi kagum akan kemajemukan Indonesia dan merasa banyak belajar tentang kehidupan beragama yang rukun dan toleran di antara umat beragama. Banyak hal baru yang mereka temukan dan alami dalam perjumpaan dan dialog dan respek terhadap kenyataan bahwa Indonesia mampu hidup bersama secara damai sekalipun berbeda adalah kenyataan. Dalam “reflective notes”, sebagian besar merasa kagum dengan Pancasila, kekaguman mereka terhadap para “founding fathers” bangsa dan negara Indonesia yang menemukan dasar berbangsa dan bernegara, kekaguman mereka terhadap kehangatan manusia Indonesia yang terbuka dan selalu gembira, kekaguman mereka terhadap hidup bersama yang rukun, damai, dan harmonis dalam aneka perbedaan. Di antara peserta IIS bahkan ada yang mengungkapkan bahwa andaikan Uni Eropa juga dapat memiliki sebuah prinsip dan dasar bersama seperti Pancasila, mungkin kesatuan dan persatuan Uni Eropa tidak hanya dalam hal ekonomi tetapi juga dalam hal-hal prinsipil kehidupan yang lebih esensial. Pancasila telah menginspirasi para peserta IIS; bahwa ketika perbedaan yang semakin tajam mencari titik temu untuk bisa hidup bersama dan berdampingan dengan damai, rukun, dan toleran yang semakin sulit dibangun di dunia saat ini, Indonesia dan Pancasilanya menjadi magnet bagi banyak bangsa dan negara. Program IIS telah ikut memberikan kontribusi bagi internasionalisasi kerukunan dan toleransi umat beragama di Indonesia.(IMH)









