JN-Sejarah makanan Yogyakarta sangat erat kaitannya dengan sejarah Gudeg, yang berasal dari zaman Kerajaan Mataram Islam saat pembabatan Alas Mentaok sekitar abad ke-16. Nangka muda yang melimpah diolah menjadi masakan dengan cara direbus lama di kuali besar bersama santan dan gula jawa, yang kemudian disebut “hangudeg” atau “mengaduk-aduk”, menjadi asal kata “gudeg”. Makanan ini juga menjadi perpaduan budaya, seperti bakpia yang dibawa oleh pedagang Tionghoa dan diadaptasi menjadi hidangan yang bisa diterima semua kalangan, serta dipengaruhi oleh faktor kolonialisme yang memicu peningkatan produksi gula sehingga mempengaruhi cita rasa manis pada makanan.
Sejarah Gudeg
Zaman Kerajaan Mataram, Gudeg pertama kali muncul sekitar abad ke-16 saat Pangeran Senopati membuka hutan Mentaok untuk pembangunan keraton, Para pekerja yang membuka hutan menemukan banyak pohon nangka dan kelapa. Mereka mengolah nangka muda dengan santan dan gula aren dalam kuali besar, lalu diaduk terus-menerus menggunakan sendok besar mirip dayung.
Proses “mengaduk-aduk” ini dalam bahasa Jawa disebut “hangudeg”, yang menjadi asal usul nama makanan gudeg, proses memasak gudeg yang lama dan membutuhkan pengadukan terus-menerus dianggap mencerminkan filosofi Jawa tentang kesabaran, ketelitian, dan ketenangan.
Sejarah makanan lainnya
Bakpia:
Baca juga: Optimalkan Anggaran Rp2,4 Triliun, KPK Dorong Pembenahan Tata Kelola Aset Daerah Pemkab Bantul
Makanan ini merupakan perpaduan budaya Tionghoa dan lokal. Resepnya dibawa oleh Kwik Sun Kwok dari Wonogiri sekitar tahun 1940-an dan menjadi simbol harmoni budaya setelah diadaptasi agar tidak menggunakan minyak babi.
Rasa manis pada makanan Yogyakarta juga dipengaruhi oleh faktor sejarah kolonial, seperti penanaman tebu secara paksa. Produksi gula yang melimpah kemudian dimanfaatkan untuk berbagai jenis makanan manis, seperti gudeg, jenil, lupis, dan klepon.
Makanan khas Jogja yang paling ikonik adalah gudeg, namun ada banyak kuliner lezat lainnya seperti sate klathak (sate kambing dengan tusuk dari besi), brongkos (sayur daging sapi berkuah santan), dan bakpia (kue manis isi kacang hijau). Pilihan lain termasuk oseng-oseng mercon (tumis pedas), mangut lele (lele asap kuah santan), dan nasi kucing (nasi bungkus kecil).
Makanan utama
Gudeg:
Terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan dan rempah hingga empuk dan manis gurih.
Sate Klathak:
Sate kambing muda yang hanya menggunakan garam dan merica, lalu dibakar dengan tusuk dari besi.
Brongkos:
Sayur berkuah santan kental dengan daging sapi, kacang merah, dan bumbu khas.
Mangut Lele:
Lele asap yang dimasak dalam kuah santan pedas.
Oseng-oseng Mercon:
Tumisan daging sapi dengan cabai rawit yang sangat pedas.
Bakmi Jawa/Goreng:
Mi kuning yang dimasak dengan kecap, ayam, sayuran, dan telur.
Makanan ringan dan jajanan
Bakpia Pathuk:
Kue pipih berisi pasta kacang hijau yang manis dan populer sebagai oleh-oleh.
Gatot dan Tiwul:
Makanan dari singkong yang difermentasi, rasanya manis dan gurih.
Wingko:
Kue kenyal dari tepung ketan dengan isian kelapa parut manis.
Geplak: Kue manis dari parutan kelapa, tepung beras, dan gula.
Kipo:
Jajanan kecil berwarna hijau dari Kotagede yang terbuat dari tepung beras dan kelapa.
Minuman khas Yogyakarta
Wedang Ronde:
Minuman hangat dengan bola-bola ketan, jahe, dan gula merah.
Wedang Uwuh:
Minuman rempah seperti jahe, serai, daun pandan, dan secang yang disajikan hanga.
Demikianlah artikerl tentang makanan khas atau ikonik Yogyakarta, semoga bermanfaat , selamat mencoba.(R/SDA)








