JN-Industri pulp dan kertas nasional semakin memperkokoh peran strategisnya dalam perekonomian Indonesia dengan mencatatkan nilai ekspor fantastis mencapai USD 8 miliar. Capaian ini menempatkan sektor tersebut sebagai salah satu kontributor terbesar dalam devisa negara, sekaligus menegaskan daya saing produk Indonesia di kancah internasional.
Pertumbuhan positif ini didorong oleh peningkatan permintaan global terhadap bahan baku kemasan ramah lingkungan serta produk tisu dan kertas tulis. Keunggulan komparatif Indonesia yang memiliki luas lahan hutan tanaman industri (HTI) yang dikelola secara lestari menjadi kunci utama stabilitas produksi di tengah fluktuasi ekonomi global tahun 2026.
“Sektor pulp dan kertas merupakan industri prioritas yang memiliki rantai nilai sangat luas, dari hulu hingga hilir. Capaian USD 8 miliar ini adalah buah dari konsistensi industri dalam melakukan pendalaman struktur manufaktur dan penerapan teknologi efisiensi energi yang mutakhir,” ujar perwakilan otoritas industri di Jakarta, Kamis (09/04/2026).
Baca juga: Pemerintah Jamin Ketersediaan Energi Nasional dan Harga Terjangkau bagi Masyarakat
Pemerintah terus mendorong industri ini untuk mengadopsi standar ekonomi sirkular melalui penggunaan energi terbarukan dalam proses produksi dan pengelolaan limbah yang optimal. Saat ini, Indonesia menduduki peringkat teratas sebagai produsen pulp dan kertas di tingkat Asia Tenggara dan masuk dalam jajaran sepuluh besar dunia.
Ke depan, fokus pengembangan industri akan diarahkan pada diversifikasi produk turunan yang lebih inovatif, seperti tekstil berbasis kayu (viscose rayon) dan produk kemasan substitusi plastik. Dengan komitmen pada aspek Environmental, Social, and Governance (ESG), industri pulp dan kertas optimis dapat terus meningkatkan nilai tambah dan memperluas jangkauan pasar ke negara-negara baru di Afrika dan Amerika Latin.(Yonex)
Baca juga: Inovasi Transportasi Digital Jadi Motor Penggerak Penguatan Ekonomi Digital Indonesia







