PUPR Kota Tangerang

Tiga Prajurit Penjaga Perdamaian TNI Gugur, IDF Investigasi Keterlibatan di Zona Merah

Kendaraan logistik UNIFIL yang hancur akibat ledakan di Lebanon Selatan, 31 Maret 2026.
Puing-puing kendaraan operasional UNIFIL di Bani Hayyan pasca ledakan yang menewaskan dua prajurit TNI.
LEBANON SELATAN, Jejak News – Kabar duka yang mendalam menyelimuti kancah misi perdamaian dunia. Dalam kurun waktu 48 jam yang mencekam, eskalasi pertempuran di wilayah perbatasan Lebanon Selatan telah merenggut nyawa tiga putra terbaik Indonesia yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) UNIFIL.
Insiden pertama pecah pada Minggu malam (29/3/2026) di Ett Taibe. Sebuah proyektil artileri menghantam pos penjagaan tepat saat pergantian personel. Serangan ini menewaskan Praka Farizal Rhomadhon, anggota Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti yang dikenal sebagai unit elite Kodam Iskandar Muda.
Belum kering tanah makam, tragedi kedua kembali menghantam pada Senin (30/3/2026) di dekat Bani Hayyan. Sebuah konvoi logistik UNIFIL yang tengah melakukan mobilisasi di tengah gempuran serangan udara, menjadi sasaran ledakan dahsyat. Kendaraan taktis hancur berkeping-keping, menewaskan dua prajurit TNI lainnya yang saat itu dilaporkan tengah berupaya mengevakuasi rekan mereka.
Militer Israel (IDF) mengeluarkan pernyataan resmi melalui kanal Telegram mereka pada Selasa (31/3). Mereka mengakui adanya aktivitas militer intensif di area tersebut namun menolak bertanggung jawab secara langsung tanpa bukti lebih lanjut.
“Insiden-insiden tersebut sedang ditinjau secara menyeluruh untuk menentukan apakah serangan tersebut berasal dari aktivitas Hizbullah atau IDF,” tulis pernyataan militer Israel. IDF berkilah bahwa zona tersebut adalah “area pertempuran aktif” melawan kelompok yang didukung Iran, sehingga jatuhnya korban dari pihak UNIFIL tidak serta-merta bisa diatribusikan kepada pihak mereka.
Namun, PBB melalui Kepala Operasi Perdamaian, Jean Pierre Lacroix, bersikap tegas: “Para penjaga perdamaian tidak boleh menjadi target.” PBB mengonfirmasi bahwa konvoi logistik tersebut berada di jalur resmi yang seharusnya dilindungi hukum internasional.
Data Korban Prajurit TNI di Lebanon (Per 31 Maret 2026)
Nama Prajurit Pangkat/Kesatuan Lokasi Insiden Status
Farizal Rhomadhon Praka / Yonif 113/Jaya Sakti Ett Taibe (Pos Penjagaan) Gugur (29/3)
*(Identitas Dirahasiakan) ** Prajurit / Satgas Indobatt Bani Hayyan (Konvoi) Gugur (30/3)
*(Identitas Dirahasiakan) ** Prajurit / Satgas Indobatt Bani Hayyan (Konvoi) Gugur (30/3)
*(Identitas Dirahasiakan) ** Prajurit / TNI Lebanon Selatan Kritis (Dirawat)
*Nama lengkap dua korban tambahan masih menunggu rilis resmi Mabes TNI demi privasi keluarga di tanah air.
Di Jakarta, Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, bergerak cepat. Indonesia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera menggelar rapat darurat. Pemerintah Indonesia tidak hanya menuntut belasungkawa, tetapi juga pertanggungjawaban hukum atas serangan terhadap personel yang mengenakan atribut “Blue Helmet”.
Bendera setengah tiang kini dikibarkan di berbagai markas militer Indonesia sebagai penghormatan terakhir bagi para pahlawan yang gugur di medan damai namun berujung maut.
Penulis: Ananta Fathur
Editor: Armand

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu