TANGERANG, Jejak News – Di tengah kepungan air yang merendam ratusan rumah, sebuah pemandangan hangat tersaji di Desa Cikande, Kecamatan Jayanti. Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, menunjukkan wajah kepemimpinan yang membumi saat meninjau titik banjir di Perumahan Taman Cikande, Jumat (16/1/2026).
Tidak sekadar memberikan instruksi, orang nomor satu di Kabupaten Tangerang ini turun langsung ke dapur umum, ikut mengaduk kuali masakan, dan makan lesehan bersama warga terdampak. Aksi ini menjadi oase di tengah duka masyarakat yang rumahnya terendam luapan Sungai Cidurian selama beberapa hari terakhir. Kehadiran Bupati bukan hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga memberikan dukungan moril yang sangat dibutuhkan warga di masa sulit.
Duduk bersimpuh di antara pengungsi, Bupati Maesyal menyerap langsung aspirasi teknis dari masyarakat. Warga mengusulkan solusi permanen berupa pembangunan tanggul di Sungai Cidurian serta pembuatan pintu air di pertemuan Sungai Cidurian dan Sungai Parung Ceri untuk mencegah aliran balik (backwater) ke pemukiman.
“Hari ini kami melihat secara langsung kondisi banjir di Perumahan Taman Cikande. Permohonan warga mengenai tanggul dan pintu air akan segera kami bahas. Kami upayakan ini bisa terealisasi di tahun 2026 atau paling lambat 2027. Kami mohon doa dari masyarakat agar upaya ini bisa segera terwujud sesuai ketentuan,” ujar Bupati Maesyal Rasyid saat berdialog dengan warga di Lokasi Pengungsian Desa Cikande.
Bupati mengungkapkan bahwa dalam lima hari terakhir, dirinya terus bergerak maraton dari pesisir hingga pedalaman—mulai dari Kosambi, Teluknaga, Kresek, Pakuhaji, hingga Jayanti—untuk memastikan negara hadir di tengah bencana yang kini melanda 119 desa/kelurahan di 24 kecamatan tersebut.
Persoalan banjir di Kabupaten Tangerang diakui tidak bisa diselesaikan secara parsial. Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kabupaten Tangerang, Iwan Firmansyah, yang turut mendampingi Bupati, menekankan pentingnya sinergi dengan pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cidanau-Ciujung-Cidurian (C3).
“Penanganan sungai besar adalah kewenangan pusat (Kementerian PU), sementara drainase perumahan adalah tanggung jawab kami di daerah. Solusi ke depan bukan hanya normalisasi, tetapi pembangunan kolam retensi di wilayah hulu dan tengah. Kami terus berkoordinasi intensif dengan BBWS C3 agar pembangunan pintu air ini bisa segera direalisasikan,” jelas Iwan Firmansyah di hadapan awak media di Kecamatan Jayanti.
Iwan juga memberikan catatan kritis mengenai fenomena alih fungsi lahan dan perilaku masyarakat yang masih membuang sampah ke saluran air sebagai faktor pemicu meluapnya debit sungai. Hingga saat ini, data BPBD Kabupaten Tangerang mencatat krisis yang cukup masif dengan total 62 ribu jiwa atau sekitar 14 ribu kepala keluarga terdampak banjir di seluruh wilayah kabupaten.
Pemerintah daerah memastikan bahwa seluruh unsur mulai dari Muspika hingga Muspida telah dikerahkan secara maksimal untuk menjaga keselamatan warga dan kelancaran distribusi logistik hingga status tanggap darurat berakhir.(Yulia)








