JAKARTA, jejak-news.com – Di ambang pergantian tahun 2026, langit Jakarta yang biasanya bermandikan cahaya piroteknik dipastikan akan berselimut kesahajaan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara resmi mengambil langkah diskresi yang fundamental dengan melarang total penggunaan kembang api dalam perayaan malam Tahun Baru. Kebijakan ini bukan sekadar regulasi administratif, melainkan sebuah pernyataan etis atas duka kolektif yang sedang menyelimuti Indonesia.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa Ibu Kota akan melakukan transisi paradigma; dari euforia visual yang konsumtif menuju kontemplasi spiritual. Langkah ini diambil sebagai bentuk solidaritas konkret terhadap para korban bencana alam yang melanda wilayah Sumatera dan sejumlah daerah lainnya.
Melalui Surat Edaran (SE) yang akan segera diterbitkan oleh Sekretaris Daerah, Pemprov DKI Jakarta menginstruksikan seluruh pemangku kepentingan—mulai dari pengelola hotel berbintang, pusat perbelanjaan, hingga penyelenggara acara publik—untuk meniadakan atraksi kembang api.
Pemerintah tetap mengingatkan bahwa penggunaan petasan (mercon) tetap dilarang secara mutlak berdasarkan UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 karena risiko ledakan yang membahayakan nyawa dan properti
“Tahun ini kita memilih untuk tidak menyalakan api di langit Jakarta. Kita ingin menyambut tahun baru dengan doa bersama, karena musibah yang terjadi adalah duka kita semua,” ujar Pramono Anung di Balai Kota dengan nada penuh khidmat.
Kebijakan ini memicu gelombang opini yang beragam di ruang publik. Secara sosiologis, langkah ini dipandang sebagai bentuk kematangan sebuah kota global.
“Ini adalah rekayasa sosial yang berani. Jakarta sedang belajar untuk mendahulukan sensitivitas publik di atas gemerlap perayaan,” ungkap Yusril seorang pengamat sosial.
Namun, di sisi lain, kebijakan ini menjadi pil pahit bagi para pelaku ekonomi akar rumput. Arif (42), seorang pedagang kembang api musiman di Pasar Pagi, menyampaikan kekhawatirannya dengan raut lesu.
“Stok sudah kami timbun sejak bulan lalu. Larangan yang sangat mendadak ini memukul modal kami. Kami berharap ada ruang kompensasi, karena bagi kami, pergantian tahun adalah tentang keberlangsungan dapur,” keluh Rais.
Di sektor perhotelan, para pelaku industri mulai bergerak cepat melakukan adaptasi kreatif. “Kami tetap menghormati keputusan ini sebagai bentuk empati nasional. Tanpa kembang api, kami akan mengalihkan pengalaman tamu ke bentuk lain yang lebih elegan, seperti pertunjukan laser atau simfoni orkestra,” jelas salah satu manajer hotel di kawasan Sudirman.
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) akan dikerahkan untuk memantau titik-titik keramaian guna memastikan kepatuhan terhadap SE tersebut. Sanksi administratif yang tegas membayangi entitas bisnis yang melanggar. Di saat yang sama, masyarakat diimbau untuk tidak menyalakan petasan secara personal, mengingat risiko bahaya kebakaran di kawasan pemukiman padat yang kerap mengintai saat euforia tak terkontrol.
Jakarta di akhir 2025 ini sedang mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri: bahwa kemegahan sejati tidak selalu diukur dari dentuman dan pijar cahaya di angkasa, melainkan dari kedalaman rasa kemanusiaan dan kebersamaan dalam menghadapi cobaan.
Bagi masyarakat yang mencari informasi terkait agenda doa bersama atau lokasi perayaan alternatif yang lebih edukatif, Pemprov DKI menyediakan informasi lengkap melalui Layanan Informasi Resmi Jakarta.(Arif)








