PUPR Kota Tangerang

GEGER PBNU! Duduk Perkara Kisruh Pemakzulan Gus Yahya, Pertarungan Visi Organisasi Hingga Isu Politik Nasional dan Konsesi Tambang

PBNU
Tampak Nusron Wahid menjelaskan kepada publik melalui awak media seputar perbedaan Misi dan Visi. (foto: Rafael)
JAKARTA, jejak-news.com – Organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), tengah dilanda turbulensi internal yang mengguncang stabilitas kepemimpinan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Isu pemakzulan yang mencuat ke permukaan bukan sekadar dinamika biasa, melainkan pertarungan sengit antara visi organisasi, intervensi politik, hingga isu sensitif konsesi tambang yang kini menjadi perhatian publik luas. 
Nahdlatul Ulama, yang secara harfiah berarti “Kebangkitan Ulama”, didirikan pada 31 Januari 1926 M di Surabaya, Jawa Timur. Kelahiran NU dilatarbelakangi oleh semangat para kiai tradisional untuk mempertahankan paham keagamaan Sunni di tengah gempuran ideologi pembaharuan Islam dari Timur Tengah. Organisasi ini digagas oleh tokoh-tokoh kharismatik seperti K.H. Hasyim Asy’ari (sebagai Rais Akbar/pemimpin tertinggi spiritual) dan K.H. Wahab Chasbullah (sebagai pelopor ide dan ketua umum pertama, KH Hasan Gipo). Sejak awal, NU telah menjadi wadah pergerakan sosial-politik dan keagamaan yang kuat di Indonesia. 
Konflik internal PBNU meruncing setelah Rapat Harian Syuriyah PBNU mengeluarkan rekomendasi pemberhentian Gus Yahya dari jabatannya, yang kemudian ditindaklanjuti dengan penunjukan Pj Ketua Umum (Zulfa Mustofa) oleh kubu yang berseberangan dengannya pada akhir November 2025. 

Pemicu awal yang paling mencolok adalah kehadiran Peter Berkovic, akademisi yang kerap diasosiasikan dengan sikap pro-Israel, dalam acara yang digelar PBNU dan Universitas Indonesia (UI) pada Agustus 2025. Tindakan ini memicu petisi keras dari komunitas UI Student for Justice in Palestine, yang menuntut Gus Yahya mundur dari Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UI dan Ketum PBNU.

Perbedaan Visi dan Tata Kelola Organisasi juga menjadi bagian pemicu konflik ini, Pihak Syuriyah (otoritas tertinggi PBNU) menilai pelaksanaan program kerja Gus Yahya, seperti Akademi Kepemimpinan Nasional (AKN NU), tidak memenuhi ketentuan dan prosedur organisasi yang berlaku. Adanya perbedaan visi dalam mengelola organisasi menjadi akar masalah fundamental, di mana sebagian pengurus merasa “privilege” atau mata uang lama mereka tidak berlaku lagi dalam konstruksi baru yang dibangun Gus Yahya.

Isu Konsesi Tambang, Muncul dugaan adanya kekuatan politik di balik dinamika ini, termasuk isu konsesi tambang yang diterima PBNU dari pemerintah. Meskipun Sekjen PBNU kubu Gus Yahya menyatakan restu dari Rais Aam dan pengurus sudah ada, polemik ini tetap memperkeruh suasana. 

Baca juga: Menhan Sjafrie Perkuat Pembinaan Prajurit Yon TP 846/Ksatria Silampari, dari Pangkalan hingga Ketahanan Pangan

Dampak paling nyata adalah dualisme kepemimpinan sementara di tubuh PBNU dan kebingungan di tingkat pengurus wilayah. Kubu Gus Yahya menegaskan keputusan pemakzulan batal demi hukum karena pergantian ketua umum hanya sah melalui forum tertinggi organisasi, yakni Muktamar. 

 Kiai sepuh NU dan Sekjen PBNU Amin Said Husni menegaskan bahwa langkah pemakzulan tidak memiliki landasan konstitusional dalam AD/ART NU dan meminta semua pihak menjaga soliditas.

 Pihak Syuriyah yang dipimpin Rais Aam KH Miftachul Akhyar menegaskan bahwa proses organisasi sedang berjalan sesuai mekanisme internal dan mengimbau semua pihak menahan diri.

 Saat ini, upaya islah atau perdamaian sedang diupayakan melalui pertemuan para kiai sepuh, salah satunya di Pondok Pesantren Lirboyo, untuk mencari solusi damai. Di tengah tekanan, Gus Yahya juga mengungkapkan bahwa jajarannya kerap menerima ancaman, menunjukkan kompleksitas masalah ini. 

Baca juga: Kawal Koordinasi Penanganan Bencana, Menko Polkam di Aceh hingga Lima Hari ke Depan

Sejarah NU memang erat kaitannya dengan politik nasional. Beberapa tokoh politik nasional ternama pernah dan sedang menduduki jabatan penting di PBNU, menunjukkan irisan kuat antara organisasi keagamaan ini dengan kekuasaan, beberapa Tokoh dari Organisasi ini banyak dikenal dan populer dikalangan masyarakat hingga pemerintahan
  1. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Presiden ke-4 RI ini pernah menjabat Ketua Umum PBNU selama tiga periode.
  2. KH Ma’ruf Amin: Wakil Presiden RI saat ini, juga pernah menjabat sebagai Rais Aam PBNU.
  3. Said Aqil Siroj: Mantan Ketum PBNU yang kini menjabat Mustasyar PBNU.
  4. Nusron Wahid: Mentri ATR/BPN yang menjabat Ketua PBNU di era Gus Yahya.
  5. Khofifah Indar Parawansa: Gubernur Jawa Timur yang juga aktif dalam struktur PBNU. 
Kisruh ini menunjukkan bahwa NU, sebagai organisasi massa terbesar, tidak luput dari dinamika internal yang kompleks, melibatkan perebutan pengaruh dan perbedaan ideologi yang kini menjadi sorotan tajam publik.(M.Ikbal)

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu