Kemenpora RI Cetak 300 Pelatih Bersertifikat melalui Program ‘BERDAYA’ demi Akselerasi Talenta Disabilitas

 Suasana pembukaan ToT Manajemen Talenta Olahraga Disabilitas oleh Kemenpora RI di Surakarta yang dihadiri para atlet elite dan praktisi NPC Indonesia.
Olahraga untuk Semua: Kemenpora RI meluncurkan Program BERDAYA di Surakarta guna mencetak pelatih bersertifikat dan memperluas ekosistem olahraga inklusif bagi penyandang disabilitas.
SURAKARTA, Jejak News – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI mempertegas komitmennya dalam menjalankan mandat konstitusi untuk membangun olahraga yang berkeadilan dan ramah disabilitas. Langkah nyata ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Training of Trainers (ToT) Master dan Manajemen Talenta Olahraga Disabilitas yang berlangsung di Kota Surakarta, 21–23 April 2026.
Membuka acara secara daring, Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Sri Wahyuni, menegaskan bahwa pengembangan olahraga disabilitas bukan sekadar program kerja rutin, melainkan pemenuhan hak asasi warga negara tanpa diskriminasi. “Peserta ToT ini dipersiapkan sebagai agen perubahan. Keberhasilan kita diukur dari seberapa jauh ilmu ini mampu mencetak atlet tangguh dan membangun masyarakat yang benar-benar inklusif,” tegasnya.
Secara intelektual, program ini dirancang untuk menjawab tantangan rendahnya angka partisipasi olahraga penyandang disabilitas di Indonesia yang saat ini masih berada di level 11,6 persen. Tenaga Ahli Menpora, Heru Komarudin, memaparkan desain strategis Program BERDAYA yang menargetkan pencetakan 300 pelatih disabilitas bersertifikat.
“Para pelatih ini akan menjadi motor penggerak di daerah masing-masing dengan misi melatih minimal 10 orang di komunitasnya. Dengan efek multiplier ini, kami optimis mampu menjangkau lebih dari 6.000 penerima manfaat secara nasional,” jelas Heru.
Sisi teknis dan humanis program ini diperkuat oleh kolaborasi bersama National Paralympic Committee (NPC) Indonesia dan akademisi UNS. Dr. dr. Retno Setianing, Sp.KFR (K) dari NPC Indonesia, menekankan pentingnya sistem klasifikasi medis dan teknis yang ketat. Klasifikasi ini dipandang sebagai ‘jantung’ olahraga paralimpiade untuk menjamin bahwa kemenangan atlet murni didasarkan pada kemampuan, kekuatan, dan taktik, bukan pada derajat keterbatasan fisik.
Melalui sinergi lintas sektor ini, Surakarta yang dikenal sebagai kota ramah disabilitas kembali menjadi saksi lahirnya pionir-pionir penggerak yang akan membawa olahraga disabilitas Indonesia menuju prestasi dunia yang lebih gemilang.
Inisiatif Kemenpora ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia tengah menuju era baru pembangunan olahraga, di mana prestasi dan kebugaran menjadi milik setiap warga negara tanpa terkecuali.
Pewarta: Deni Angkasa |  Editor: Mulkan Siregar

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL TERBARU

Menu