<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kekerasan Anak &#8211; Jejak News</title>
	<atom:link href="https://www.jejak-news.com/tag/kekerasan-anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.jejak-news.com</link>
	<description>No Viral No Justice</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Apr 2026 16:16:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://www.jejak-news.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-1-150x150.png</url>
	<title>Kekerasan Anak &#8211; Jejak News</title>
	<link>https://www.jejak-news.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tragedi Kemanusiaan di Balik Kedok Edukasi, Menggugat Integritas Pengasuhan di Little Aresha Yogyakarta</title>
		<link>https://www.jejak-news.com/tragedi-kemanusiaan-di-balik-kedok-edukasi-menggugat-integritas-pengasuhan-di-little-aresha-yogyakarta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2026 16:16:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hukum & Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Anita Palupy Indahsari]]></category>
		<category><![CDATA[Daycare Ilegal]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Little Aresha]]></category>
		<category><![CDATA[Polresta Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Umbulharjo]]></category>
		<category><![CDATA[UU Perlindungan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.jejak-news.com/?p=10608</guid>

					<description><![CDATA[YOGYAKARTA, Jejak News- Publik Indonesia tengah diguncang oleh fakta memilukan yang terkuak dari balik dinding Daycare Little Aresha, Umbulharjo. Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizky Adrian, dalam pengungkapan terbaru pada Senin (27/4/2026), memaparkan realitas kelam di mana 103 anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan, justru terperangkap dalam sistem pengasuhan yang mencederai martabat kemanusiaan. Praktik kekerasan sistemik ini [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="otQkpb" role="heading" aria-level="3" data-animation-nesting="" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-complete="true" data-processed="true" data-sae=""></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBBAA" data-complete="true" data-processed="true"><strong class="Yjhzub" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-complete="true" data-processed="true">YOGYAKARTA,</strong> <strong class="Yjhzub" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-complete="true" data-processed="true">Jejak News-</strong> Publik Indonesia tengah diguncang oleh fakta memilukan yang terkuak dari balik dinding Daycare Little Aresha, Umbulharjo. Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizky Adrian, dalam pengungkapan terbaru pada Senin (27/4/2026), memaparkan realitas kelam di mana 103 anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan, justru terperangkap dalam sistem pengasuhan yang mencederai martabat kemanusiaan.</div>
<div data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBBAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBRAA" data-complete="true" data-processed="true">Praktik kekerasan sistemik ini menjadi preseden buruk bagi dunia pendidikan anak usia dini nasional. Penemuan polisi mengungkap pola kekerasan yang diwariskan secara &#8220;turun-temurun&#8221;, di mana anak-anak dibatasi ruang geraknya dengan ikatan fisik dan hanya dilepaskan demi kepentingan dokumentasi laporan formal kepada orang tua. Hal yang paling menyayat hati adalah keterlibatan langsung jajaran struktural, termasuk Kepala Sekolah, Anita Palupy Indahsari, dan Ketua Yayasan, yang diduga membiarkan bahkan menginstruksikan praktik tak manusiawi ini di depan mata mereka setiap hari.</div>
<div data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBRAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBhAA" data-complete="true" data-processed="true">Secara intelektual, kasus ini menguak celah besar dalam pengawasan lembaga pendidikan non-formal di tanah air. Little Aresha yang mengklaim sebagai program &#8220;Plus&#8221; dengan fasilitas premium, nyatanya beroperasi secara ilegal tanpa izin resmi. Penanganan hukum yang menjerat 13 tersangka dengan pasal berlapis UU Perlindungan Anak merupakan langkah krusial untuk memulihkan keadilan. Namun, secara humanis, luka psikologis bagi 53 anak yang teridentifikasi sebagai korban kekerasan fisik menjadi beban kolektif bangsa yang membutuhkan proses pemulihan jangka panjang.</div>
<div data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBhAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBxAA" data-complete="true" data-processed="true">Kisah ini kini  memicu gerakan nasional untuk lebih selektif dan kritis terhadap legalitas serta transparansi lembaga penitipan anak. Indonesia tidak hanya menuntut hukuman maksimal bagi para pelaku, tetapi juga menagih sistem pengawasan negara yang lebih ketat agar rumah kedua bagi anak-anak tidak lagi berubah menjadi ruang trauma.</div>
<div data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBxAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEICBAA" data-complete="true" data-processed="true">Kepercayaan orang tua adalah amanah suci yang tidak boleh dikhianati oleh ambisi materiil maupun kelalaian moral. Tragedi di Little Aresha harus menjadi momentum transformasi total bagi standar pengasuhan anak di Indonesia, demi memastikan tunas bangsa tumbuh dalam lingkungan yang memanusiakan manusia.</div>
<div data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEICBAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEICRAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIChAA" data-complete="true" data-processed="true" aria-owns="action-menu-parent-container"><strong class="Yjhzub" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-complete="true" data-processed="true">Pewarta :</strong> Ananta Fathur|<strong class="Yjhzub" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-complete="true" data-processed="true">Editor :</strong> Ismail Saleh</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Guru Ngaji Tersangka Predator Anak Diringkus Polres Metro Tangerang Kota</title>
		<link>https://www.jejak-news.com/guru-ngaji-tersangka-predator-anak-diringkus-polres-metro-tangerang-kota/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 15:07:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jejak Hukum & Kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Ngaji]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Tangerang]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kriminalitas]]></category>
		<category><![CDATA[Perlindungan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Polres Metro Tangerang Kota]]></category>
		<category><![CDATA[Sukadiri]]></category>
		<category><![CDATA[UU Perlindungan Anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.jejak-news.com/?p=10548</guid>

					<description><![CDATA[TANGERANG, Jejak News- Sebuah noktah hitam kembali mencoreng dunia pendidikan berbasis religi di wilayah Sukadiri, Kabupaten Tangerang. Seorang oknum guru ngaji berinisial A resmi ditetapkan sebagai tersangka setelah diduga melakukan aksi bejat berupa pemerkosaan terhadap empat murid perempuannya yang masih berusia antara 15 hingga 16 tahun. Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol Andi Muhammad Indra [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBBAA" data-complete="true" data-processed="true"><strong class="Yjhzub" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-complete="true" data-processed="true">TANGERANG, Jejak News-</strong> Sebuah noktah hitam kembali mencoreng dunia pendidikan berbasis religi di wilayah Sukadiri, Kabupaten Tangerang. Seorang oknum guru ngaji berinisial A resmi ditetapkan sebagai tersangka setelah diduga melakukan aksi bejat berupa pemerkosaan terhadap empat murid perempuannya yang masih berusia antara 15 hingga 16 tahun.</div>
<div data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBBAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBRAA" data-complete="true" data-processed="true">Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah, dalam keterangan resminya pada Senin (27/4/2026), mengungkapkan bahwa tersangka menggunakan manipulasi spiritual yang mencederai akal sehat dan kepercayaan masyarakat. Tersangka berdalih melakukan ritual pembersihan diri dari gangguan makhluk halus atau jin untuk memerangkap para korban.</div>
<div data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBRAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBhAA" data-complete="true" data-processed="true">&#8220;Berdasarkan hasil investigasi, tersangka menjalankan aksinya sejak Oktober 2025. Modus yang digunakan adalah memerintahkan korban untuk mandi ritual, di mana saat itulah tersangka masuk dan melakukan kekerasan seksual,&#8221; jelas Kombes Andi Muhammad Indra Waspada. Tidak hanya melakukan manipulasi, tersangka juga memberikan ancaman psikis agar para korban tetap bungkam dan tidak melawan.</div>
<div data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBhAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBxAA" data-complete="true" data-processed="true">Tabir gelap ini terungkap setelah salah satu korban memberanikan diri melapor kepada orang tuanya, yang kemudian diteruskan kepada otoritas desa pada Jumat (24/4). Respons cepat kepolisian berhasil meredam kemarahan massa yang sempat mendatangi kediaman tersangka dan segera mengamankan A guna proses hukum lebih lanjut.</div>
<div data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBxAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEICBAA" data-complete="true" data-processed="true">Secara intelektual-hukum, tindakan tersangka merupakan pelanggaran serius terhadap integritas fisik dan masa depan generasi muda. Tersangka kini dijerat dengan Pasal 81 dan 82 Undang-Undang Perlindungan Anak serta Pasal 473 KUHP. Ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara menanti tersangka sebagai bentuk konsekuensi hukum atas degradasi moral dan kemanusiaan yang dilakukannya.</div>
<div data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEICBAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEICRAA" data-complete="true" data-processed="true">Kasus ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat akan pentingnya pengawasan kolektif dan literasi keamanan bagi anak-anak di ruang pengasuhan maupun pendidikan, guna memastikan tidak ada lagi ruang bagi predator yang bersembunyi di balik jubah pengabdian.</div>
<div data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEICRAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIChAA" data-complete="true" data-processed="true" aria-owns="action-menu-parent-container">Pewarta: Acep Hidayat | Editor: Ismail Saleh</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menteri PPPA Arifah Fauzi Desak Reformasi Sistem Pengasuhan Nasional</title>
		<link>https://www.jejak-news.com/menteri-pppa-arifah-fauzi-desak-reformasi-sistem-pengasuhan-nasional/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 09:27:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Perlindungan Perempuan dan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Arifah Fauzi]]></category>
		<category><![CDATA[Daycare Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Asasi Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[KemenPPPA]]></category>
		<category><![CDATA[Little Aresha]]></category>
		<category><![CDATA[Menteri PPPA]]></category>
		<category><![CDATA[Perlindungan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Reformasi Pengasuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.jejak-news.com/?p=10512</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA, Jejak News- Di tengah upaya bangsa merajut masa depan melalui perlindungan generasi muda, sebuah tragedi kemanusiaan yang mencoreng pilar pengasuhan anak menyeruak ke permukaan. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengeluarkan kecaman keras atas dugaan kekerasan sistemik yang terjadi di sebuah daycare di Kota Yogyakarta, menegaskan bahwa setiap tetes air mata anak korban adalah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBBAA" data-complete="true" data-processed="true"><strong class="Yjhzub" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-complete="true" data-processed="true">JAKARTA, Jejak News-</strong> Di tengah upaya bangsa merajut masa depan melalui perlindungan generasi muda, sebuah tragedi kemanusiaan yang mencoreng pilar pengasuhan anak menyeruak ke permukaan. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengeluarkan kecaman keras atas dugaan kekerasan sistemik yang terjadi di sebuah <em class="eujQNb" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-complete="true" data-processed="true">daycare</em> di Kota Yogyakarta, menegaskan bahwa setiap tetes air mata anak korban adalah alarm bagi kedaulatan hak asasi manusia di Indonesia.</div>
<div data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBBAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBRAA" data-complete="true" data-processed="true">&#8220;Kami menyampaikan simpati terdalam bagi para korban dan keluarga. Perlindungan anak adalah mandat suci yang tidak mengenal kompromi. Negara tidak akan membiarkan ruang bagi kekerasan; pelaku harus menghadapi konsekuensi hukum yang setimpal sementara korban mendapatkan perlindungan paripurna,&#8221; tegas Menteri Arifah Fauzi dalam pernyataan resminya, Senin (27/04/26).</div>
<div data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBRAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBhAA" data-complete="true" data-processed="true">Kasus yang menimpa Daycare Little Aresha ini mengungkap tabir kelam, di mana 53 dari 103 anak yang dititipkan terindikasi mengalami kekerasan fisik maupun diskriminasi selama setahun terakhir. Menteri PPPA memastikan bahwa kementeriannya tidak hanya sekadar mengamati, namun terlibat aktif dalam mengawal proses hukum di Polresta Yogyakarta serta berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).</div>
<div data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBhAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBxAA" data-complete="true" data-processed="true">Secara intelektual dan manajerial, Arifah Fauzi menekankan bahwa peristiwa ini merupakan momentum kritis untuk melakukan audit total terhadap sistem pengawasan dan perizinan lembaga penitipan anak di seluruh Indonesia. Strategi KemenPPPA kini difokuskan pada penguatan ekosistem pengasuhan yang aman melalui:</div>
<ol class="IaGLZe VimKh" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-complete="true" data-processed="true">
<li class="Z1qcYe" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEICBAA" data-complete="true" data-sae=""><span class="T286Pc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-complete="true"><strong class="Yjhzub" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-complete="true">Restorasi Psikososial:</strong> Pendampingan komprehensif bagi anak-anak terdampak untuk memutus rantai trauma.</span></li>
<li class="Z1qcYe" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEICBAB" data-complete="true" data-sae=""><span class="T286Pc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-complete="true"><strong class="Yjhzub" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-complete="true">Evaluasi Regulasi:</strong> Pengetatan standar operasional prosedur (SOP) dan pengawasan berkala pada <em class="eujQNb" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-complete="true">daycare</em>.</span></li>
<li class="Z1qcYe" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEICBAC" data-complete="true" data-sae=""><span class="T286Pc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-complete="true"><strong class="Yjhzub" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-complete="true">Sinergi Respons Cepat:</strong> Memperkuat kanal pengaduan masyarakat guna deteksi dini potensi pelanggaran hak anak.</span></li>
</ol>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEICRAA" data-complete="true" data-processed="true">&#8220;Daycare seharusnya menjadi rumah kedua yang penuh kasih, bukan ladang trauma. Kami akan memastikan proses pemulihan berjalan optimal dan mengevaluasi seluruh sistem pengasuhan agar tragedi serupa tidak kembali merampas keceriaan anak-anak kita,&#8221; pungkasnya.</div>
<div data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEICRAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIChAA" data-complete="true" data-processed="true" aria-owns="action-menu-parent-container">Pewarta: Abdul Rozak| Editor: Ismail Saleh</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Restorasi Keadilan bagi 53 Anak Korban Kekerasan Daycare Yogyakarta</title>
		<link>https://www.jejak-news.com/restorasi-keadilan-bagi-53-anak-korban-kekerasan-daycare-yogyakarta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2026 07:35:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jejak Hukum & Kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Yogyakarta Hari Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Daycare Little Aresha]]></category>
		<category><![CDATA[Eva Guna Pandia]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Perlindungan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Polresta Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Sorosutan Umbulharjo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.jejak-news.com/?p=10473</guid>

					<description><![CDATA[YOGYAKARTA – Jejak News, Sebuah tabir kelam dalam dunia pendidikan anak usia dini terungkap di jantung Kota Yogyakarta. Polresta Yogyakarta secara resmi menetapkan 13 orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan kekerasan sistematis yang terjadi di Daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo. Langkah hukum ini menjadi titik balik penting dalam upaya perlindungan hak-hak fundamental anak yang selama ini tercederai [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBBAA" data-complete="true" data-processed="true"><strong class="Yjhzub" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-complete="true" data-processed="true">YOGYAKARTA – Jejak News,</strong> Sebuah tabir kelam dalam dunia pendidikan anak usia dini terungkap di jantung Kota Yogyakarta. Polresta Yogyakarta secara resmi menetapkan 13 orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan kekerasan sistematis yang terjadi di <em class="eujQNb" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-complete="true" data-processed="true">Daycare</em> Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo. Langkah hukum ini menjadi titik balik penting dalam upaya perlindungan hak-hak fundamental anak yang selama ini tercederai di balik dinding institusi penitipan anak.</div>
<div data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBBAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBRAA" data-complete="true" data-processed="true">Penetapan tersangka yang diumumkan pada Sabtu malam (25/4) mencakup elemen struktural lembaga, mulai dari kepala yayasan, kepala sekolah, hingga sebelas pengasuh. Keputusan ini diambil setelah gelar perkara intensif yang dipimpin langsung oleh Kapolresta Yogyakarta, Kombes Pol Eva Guna Pandia. Kasus ini mencuat ke permukaan setelah penggerebekan dramatis yang menyingkap tabir perlakuan tidak manusiawi terhadap para balita yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan kasih sayang.</div>
<div data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBRAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBhAA" data-complete="true" data-processed="true">Secara intelektual dan moral, temuan di lapangan sangatlah menggetarkan nurani publik. Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Riski Adrian, mengungkapkan bahwa petugas menyaksikan langsung praktik penelantaran yang melampaui batas kemanusiaan, di mana anak-anak ditemukan dalam kondisi tangan dan kaki terikat. Data sementara menunjukkan angka korban yang sangat memprihatinkan, yakni mencapai 53 anak—sebuah skala kekerasan yang menuntut perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan perlindungan anak di Indonesia.</div>
<div data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBhAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBxAA" data-complete="true" data-processed="true">Kombes Pol Eva Guna Pandia menegaskan bahwa para tersangka akan dijerat dengan pasal berlapis mengenai perlakuan salah, penelantaran, dan kekerasan terhadap anak. &#8220;Kami berkomitmen untuk mengusut tuntas motif dan pola kekerasan ini. Setiap individu yang terlibat dalam perampasan hak dan kenyamanan anak-anak ini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum,&#8221; tegas Pandia dalam keterangannya di GOR Amongrogo.</div>
<div data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIBxAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEICBAA" data-complete="true" data-processed="true">Insiden Little Aresha menjadi pengingat pahit bagi masyarakat dan pemerintah mengenai urgensi standarisasi serta pengawasan ketat terhadap lembaga penitipan anak. Penegakan hukum yang tegas dalam kasus ini diharapkan menjadi momentum restorasi keamanan bagi ruang-ruang tumbuh kembang anak di Yogyakarta dan menjadi rujukan nasional dalam pemberantasan kekerasan di lingkungan pendidikan.</div>
<div data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEICBAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEICRAA" data-complete="true" data-processed="true">Keadilan bagi 53 anak korban di Little Aresha adalah harga mati. Masyarakat menanti transparansi penuh dalam konferensi pers mendatang, guna memastikan bahwa ruang publik kembali menjadi tempat yang aman bagi generasi masa depan bangsa.</div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEIChAA" data-complete="true" data-processed="true"></div>
<div class="n6owBd awi2gc" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-hveid="CAEICxAA" data-complete="true" data-processed="true"><strong class="Yjhzub" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-complete="true" data-processed="true">Pewarta:  Jeki Irawan| Editor: Ismail Saleh</strong></div>
<div class="Fsg96" data-sfc-cp="" data-sfc-root="c" data-sfc-cb="" data-complete="true" data-processed="true"></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sikap Tegas Kemenag: Dukung Penuh Proses Hukum Bagi Pelaku Kekerasan Terhadap Anak</title>
		<link>https://www.jejak-news.com/sikap-tegas-kemenag-dukung-penuh-proses-hukum-bagi-pelaku-kekerasan-terhadap-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2026 12:45:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kemenag]]></category>
		<category><![CDATA[Madrasah Aman]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Keagamaan]]></category>
		<category><![CDATA[Penegakan Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Perlindungan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren Ramah Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Proses Hukum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.jejak-news.com/?p=9461</guid>

					<description><![CDATA[JN-Kementerian Agama (Kemenag) menyatakan dukungan penuh kepada aparat penegak hukum untuk menindak tegas siapa pun pelaku kekerasan terhadap anak, terutama yang terjadi di lingkungan institusi pendidikan keagamaan. Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen negara dalam memberikan perlindungan maksimal bagi generasi muda. Pihak Kemenag menegaskan bahwa tidak ada ruang toleransi (zero tolerance) bagi tindakan kekerasan, baik [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>JN-Kementerian Agama (Kemenag) menyatakan dukungan penuh kepada aparat penegak hukum untuk menindak tegas siapa pun pelaku kekerasan terhadap anak, terutama yang terjadi di lingkungan institusi pendidikan keagamaan. Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen negara dalam memberikan perlindungan maksimal bagi generasi muda.</p>
<p data-path-to-node="7">Pihak Kemenag menegaskan bahwa tidak ada ruang toleransi (<i data-path-to-node="7" data-index-in-node="58">zero tolerance</i>) bagi tindakan kekerasan, baik fisik, psikis, maupun seksual. Kemenag juga memastikan akan bersikap kooperatif dalam menyediakan data atau pendampingan yang diperlukan guna memperlancar proses investigasi oleh pihak kepolisian.</p>
<p data-path-to-node="8">&#8220;Kami mendukung penuh langkah kepolisian untuk memproses hukum pelaku sesuai perundang-undangan yang berlaku. Institusi pendidikan harus menjadi zona aman dan nyaman bagi anak untuk belajar, bukan tempat yang menakutkan,&#8221; ujar juru bicara Kemenag dalam keterangan resminya.</p>
<p data-path-to-node="9">Selain mendukung jalur hukum, Kemenag juga terus memperkuat regulasi internal melalui sosialisasi pesantren ramah anak dan peningkatan pengawasan di madrasah. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi dini potensi kekerasan serta memberikan edukasi kepada pengelola lembaga pendidikan mengenai pentingnya menjaga integritas dan moralitas dalam mendidik.(Yonex)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
