JN-Di tengah rangkaian pertemuan tingkat tinggi pasca-penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART), Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan pujian terbuka bagi Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Di hadapan sejumlah pemimpin dunia dan delegasi internasional, Trump menyebut Prabowo sebagai sosok pemimpin yang tangguh, berwibawa, dan sangat dihormati di panggung global.
Pernyataan ini disampaikan Trump saat jamuan makan malam resmi di Washington DC, yang menandai penguatan aliansi strategis antara Jakarta dan Washington.
Presiden Trump menekankan bahwa di bawah kepemimpinan Prabowo, Indonesia berhasil menunjukkan posisi tawar yang kuat namun tetap kooperatif dalam stabilitas kawasan.
“Presiden Prabowo adalah pria yang tangguh. Ia tahu apa yang diinginkan bangsanya dan ia tahu bagaimana cara mencapainya. Dunia menghormati kepemimpinannya, dan Amerika bangga bisa bekerja sama dengan pemimpin sekaliber beliau,” ujar Trump di hadapan hadirin.
Pujian ini dipandang bukan sekadar basa-basi diplomatik, melainkan sinyal dukungan AS terhadap peran Indonesia sebagai pemimpin de facto di Asia Tenggara dan pemain kunci di Indo-Pasifik.
Para analis politik internasional menilai bahwa pengakuan dari Gedung Putih ini akan membawa dampak positif bagi Indonesia, di antaranya:
-
Peningkatan Investasi: Kepercayaan Trump terhadap kepemimpinan Prabowo menjadi jaminan bagi investor AS untuk menanamkan modal di sektor strategis RI.
-
Stabilitas Kawasan: Memperkuat posisi Indonesia sebagai penengah dalam dinamika Laut Cina Selatan dan isu geopolitik lainnya.
-
Percepatan Indonesia Emas: Dukungan internasional memudahkan langkah Indonesia dalam mencapai target-target pembangunan jangka panjang.
Kedekatan antara Prabowo dan Trump dinilai sebagai salah satu faktor kunci suksesnya negosiasi tarif nol persen bagi 1.819 produk Indonesia. Kesepakatan yang sebelumnya dianggap sulit dicapai, justru berhasil diteken dalam waktu singkat berkat komunikasi personal yang efektif antara kedua pemimpin.
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, menambahkan bahwa atmosfer saling menghormati ini menjadi landasan terciptanya era baru kerja sama yang disebut sebagai “New Golden Age”. “Dunia melihat Indonesia bukan lagi sebagai pengikut, melainkan mitra sejajar,” tegas Airlangga.(IMH)







